Rabies, penyakit virus mematikan yang menyerang sistem saraf pusat, menjadikan gigitan anjing yang terinfeksi sebagai salah satu penyebab kematian terbanyak akibat penyakit zoonosis di berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara dengan populasi anjing liar yang tinggi dan program vaksinasi yang belum optimal. Virus rabies, yang umumnya ditularkan melalui air liur hewan yang terinfeksi melalui gigitan atau cakaran, memiliki tingkat kematian yang hampir 100% jika gejala klinis sudah muncul.
Salah satu alasan mengapa gigitan anjing rabies menjadi penyebab kematian yang signifikan adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini dan penanganan pasca-gigitan yang tidak tepat. Banyak kasus kematian akibat rabies terjadi karena korban tidak segera mencari pertolongan medis setelah digigit anjing yang dicurigai rabies. Padahal, pemberian vaksin anti rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR) secepat mungkin setelah terpapar virus sangat krusial untuk mencegah perkembangan penyakit. Data dari Kementerian Kesehatan Malaysia per tanggal 11 Mei 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kematian akibat rabies di negara tersebut disebabkan oleh keterlambatan penanganan medis pasca-gigitan.
Selain itu, populasi anjing liar yang tidak terkontrol dan rendahnya cakupan vaksinasi rabies pada hewan peliharaan juga menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian akibat penyakit ini. Anjing liar yang tidak divaksinasi dapat menjadi reservoir virus rabies dan menularkannya kepada hewan lain maupun manusia melalui gigitan. Upaya pengendalian populasi anjing liar melalui sterilisasi dan vaksinasi massal merupakan langkah penting dalam mencegah penyebaran rabies dan mengurangi risiko penyebab kematian akibat gigitan anjing rabies.
Gejala rabies pada manusia dapat bervariasi, mulai dari demam, sakit kepala, dan kelemahan, hingga gejala yang lebih parah seperti hidrofobia (takut air), aerofobia (takut udara), kelumpuhan, dan akhirnya kematian. Sayangnya, setelah gejala klinis rabies muncul, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal. Oleh karena itu, pencegahan melalui vaksinasi hewan dan penanganan segera pasca-paparan menjadi kunci utama dalam memerangi rabies sebagai penyebab kematian.
Sebagai kesimpulan, gigitan anjing rabies merupakan penyebab kematian yang signifikan akibat penyakit zoonosis. Kurangnya kesadaran masyarakat, penanganan pasca-gigitan yang terlambat, serta populasi anjing liar yang tidak terkontrol menjadi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian akibat rabies. Upaya pencegahan melalui vaksinasi hewan, pengendalian populasi anjing liar, dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang penanganan pasca-paparan sangat penting untuk mengurangi risiko kematian akibat penyakit mematikan ini. Pemerintah dan organisasi kesehatan masyarakat terus berupaya untuk meningkatkan program pengendalian dan pencegahan rabies di berbagai wilayah.
