Masalah intimidasi di lingkungan pendidikan seringkali muncul dalam bentuk Bullying Terselubung yang jauh lebih sulit dideteksi dibandingkan kekerasan fisik. Bentuknya bisa berupa pengucilan secara sistematis, penyebaran rumor di grup pesan singkat, hingga sindiran halus yang dikemas dalam bentuk candaan. Karena sifatnya yang tidak terlihat secara langsung, banyak pihak di sekolah, termasuk guru dan orang tua, seringkali menganggap hal ini sebagai bagian dari dinamika pergaulan remaja yang biasa, padahal dampaknya bagi mental korban sangatlah merusak.
Karakteristik utama dari Bullying Terselubung adalah adanya niat untuk menjatuhkan mental seseorang tanpa meninggalkan jejak fisik. Korban seringkali merasa tertekan, namun sulit untuk melaporkan kejadian tersebut karena takut dianggap terlalu sensitif atau “baper”. Di sekolah-sekolah perkotaan, intimidasi psikologis ini sering terjadi dalam lingkaran pertemanan atau circle tertentu, di mana seseorang sengaja ditinggalkan dalam aktivitas kelompok atau dibicarakan di belakang secara terus-menerus. Jika dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik dan hilangnya motivasi siswa untuk bersekolah.
Banyak pelaku tidak menyadari bahwa tindakan mereka masuk dalam kategori Bullying Terselubung karena menganggapnya sebagai lelucon semata. Namun, bagi korban, candaan yang merendahkan fisik atau status sosial dapat membekas menjadi trauma jangka panjang. Lingkungan sekolah yang membiarkan perilaku ini secara tidak langsung menyuburkan budaya penindasan yang toksik. Penting bagi institusi pendidikan untuk menciptakan sistem pengaduan yang aman dan responsif, sehingga siswa yang merasa menjadi korban dapat berbicara tanpa takut mendapatkan intimidasi tambahan dari pelaku atau teman-temannya.
Mengatasi Bullying Terselubung memerlukan kerja sama antara konselor sekolah, guru, dan orang tua untuk membangun empati di kalangan siswa. Edukasi mengenai batasan dalam bercanda dan pentingnya menghargai perbedaan harus diberikan secara konsisten. Siswa perlu diajak untuk menjadi upstander, yaitu orang yang berani menegur atau melaporkan ketika melihat temannya diperlakukan tidak adil, meskipun secara halus. Dengan membangun budaya saling dukung, ruang bagi para pelaku intimidasi untuk beraksi akan semakin sempit dan suasana belajar menjadi lebih kondusif bagi semua orang.
